News  

KATA FOTO: Doa untuk Sumbar, Korban Jiwa banjir Bandang dan Lahar Capai 37 Orang

SUMBAR, KataBatam- Tim penolong masih terus mencari korban yang dilaporkan hilang. Dan di sisi lain, proses evakuasi warga terdampak banjir bandang juga sudah dilakukan pada Senin (13/5/2024).

Melansir dari BBC .com, Ratusan warga yang terdampak banjir bandang lahar di tiga daerah di Sumatra Barat telah evakuasi ke sejumlah posko pengungsian, ungkap Badan Penanggulangan Bencana (BNPB).

Banjir terjadi di Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang.

Sampai Senin (13/05), setidaknya 37 orang tewas akibat banjir bandang dan lahar di wilayah itu pada Sabtu (11/05) malam.

Sebanyak 60 jiwa dievakuasi ke gedung SMPN 1 Koto Tuo, kata BNPB.

Selain itu, terdapat 74 warga diungsikan sementara ke gedung SDN 08 Kubang Putiah Duo Koto Panjang.

Sedangkan 25 korban lainnya mengungsi ke sejumlah rumah warga. Untuk di wilayah Tanah Datar, kata Abdul, terdapat lebih dari 84 keluarga yang terdampak banjir bandang.

“Hingga saat ini disamping melakukan upaya penanganan darurat, BPBD setempat juga masih terus melakukan pemutakhiran data dampak dari banjir dan tanah longsor tersebut,” kata Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam situs resminya.

𝗕𝗲𝗿𝗮𝗽𝗮 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗗𝗶𝘁𝗲𝗿𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗕𝗮𝗻𝗷𝗶𝗿?
Adapun banjir bandang ini mengakibatkan 193 rumah warga di Kabupaten Agam mengalami kerusakan.

Sementara itu, di Tanah Datar, dilaporkan ada 84 rumah yang rusak ringan hingga berat.

Kerusakan juga terjadi di sejumlah sarana prasarana, yakni jembatan hingga rumah ibadah. Kondisi lalu lintas dari Kabupaten Tanah Datar menuju Padang dan Solok juga dilaporkan lumpuh total.

“Tim Basarnas, TNI, Polri dan unsur terkait lainya masih terus berupaya melakukan penanganan darurat, pendataan serta pertolongan untuk warga terdampak,” kata Abdul.

𝗞𝗲𝗿𝘂𝘀𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗟𝗶𝗻𝗴𝗸𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻
Sebelumnya, aktivis lingkungan menilai bencana terjadi karena kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan pembangunan yang serampangan.

Ada setidaknya 19 korban jiwa dari Kabupaten Agam, sembilan dari Kabupaten Tanah Datar, dan satu dari Kota Padang Panjang, menurut data Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Padang per Minggu malam (12/5/2024).

Selain itu, ditemukan pula delapan jenazah di Kabupaten Padang Pariaman, yang diduga hanyut dari kawasan Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar.

Korban jiwa diprediksi akan bertambah mengingat sebanyak 18 orang dari tiga wilayah yang terdampak banjir itu disebut hilang dan masih dalam pencarian.

“Sampai pukul 18.30 WIB [pada Minggu], tim gabungan untuk sementara dihentikan karena debit hujan yang terjadi di puncak atau bagian hulu di [Gunung] Marapi,” kata Abdul Malik, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Padang, pada wartawan Halbert Caniago di Sumatra Barat yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

“Ini tambah lebat dan dikhawatirkan akan berdampak pada tim pencarian.”

Untuk Kabupaten Agam, hujan deras bahkan disebut menyebabkan air sungai yang berhulu di Gunung Marapi meluap, sehingga tercipta aliran di “jalur baru” yang membawa “batu-batu besar” dari gunung berapi paling aktif di Sumatra itu ke permukiman di sekitarnya,

“Karena saking derasnya hujan, dia membuat jalur tersendiri,” kata Budi Perwira Negara, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam.

“Banjir ini diikuti dengan material batu besar dari Gunung Marapi.”

Selain korban jiwa, ada pula 16 korban luka dari Kecamatan Canduang, Kecamatan Sungai Pua, dan Kecamatan IV Koto di Kabupaten Agam, kata Budi.

Sedikitnya 110 rumah warga dan tempat usaha serta satu sekolah di tiga kecamatan itu tergenang air, sementara tiga rumah disebut “terbawa arus”.

Budi bilang bencana ini adalah yang “paling parah” yang pernah terjadi di Kabupaten Agam dalam “150 tahun”.

Kabupaten Agam pun telah resmi berstatus tanggap darurat untuk periode 12-25 Mei.

Hujan lebat juga memicu tanah longsor di Desa Malalak Timur, Kabupaten Agam, sehingga akses jalan yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi terputus.

Menurut Budi, longsoran tanah sempat menutup jalan itu dengan panjang 12 meter dan ketinggian 3-4 meter.

𝗕𝗮𝗻𝗷𝗶𝗿 𝗧𝗲𝗿𝗷𝗮𝗻𝗴 𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗞𝗲𝗰𝗮𝗺𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗞𝗮𝗯𝘂𝗽𝗮𝘁𝗲𝗻 𝗧𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗗𝗮𝘁𝗮𝗿
Sementara itu, banjir melanda lima kecamatan di Kabupaten Tanah Datar: Kecamatan X Koto, Kecamatan Batipuh, Kecamatan Pariangan, Kecamatan Lima Kaum, dan Kecamatan Sungai Tarab.

Ada setidaknya 25 keluarga, 24 rumah, dan 12 jembatan yang terdampak, berdasarkan data terakhir BPBD Kabupaten Tanah Datar.

Ermon Revlin, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tanah Datar, mengatakan banjir yang terjadi di wilayahnya merupakan kombinasi banjir lahar dingin Gunung Marapi dan banjir bandang akibat naiknya debit air sungai.

“Kalau dilihat sungainya, ada beberapa yang [banjir] lahar dingin, ada yang tidak,” kata Ermon.

“Yang bukan banjir lahar dingin itu ada yang di Rambatan, terus ada yang di Pandai Sikek. Itu karena debit air sungai tinggi. Karena hulu sungainya bukan di Gunung Marapi itu kalau Pandai Sikek.”

Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengatakan banjir telah meninggalkan endapan lumpur setinggi “betis orang dewasa”.

“Karena itu, selain upaya pencarian dan pertolongan, tim gabungan pada hari ini juga berupaya melakukan pembersihan ruas jalan Batusangkar-Padang Panjang yang terdampak endapan lumpur,” kata Abdul pada Minggu (12/5).

Di sisi lain, banjir melanda Kecamatan Padang Panjang Barat dan Kecamatan Padang Panjang Timur di Kota Padang Panjang.

Dua rumah di pinggir Sungai Sangkua disebut “hanyut”, sementara tiga orang sempat hilang “terbawa arus” di Kota Padang Panjang.

Satu dari tiga orang itu telah berhasil ditemukan dan diselamatkan. (ski/BBC)

Exit mobile version