INSPIRASI PAGI: Superhero Fatigue

DI AWAL tahun 1984 ada sandiwara radio yang sangat populer, “Saur Sepuh”, dengan bintang utamanya pendekar pilih tanding, Raja Madangkara, Brama Kumbara, dan adik tirinya, Mantili.

Setelah lebih lima tahun meraja, sandiwara yang ditulis Niki Kosasih ini mulai ditinggalkan. Selain banyak sandiwara radio lain yang sejenis, para pendengar yang budiman kala itu mulai lelah dan jenuh dengan pola cerita yang berulang-ulang dan hampir seragam.

Misal, selalu saja ada plot orang lemah yang dirampok atau ditindas, tiba-tiba datang tokoh utama muncul sebagai pahlawan penyelamat. Begitu terus mirip kisah rakyat Konoha.

Fenomena semacam ini juga dirasakan oleh penikmat film superhero Hollywood, seperti Marvel dan DC. Sebutannya “superhero fatigue”.

Lihat saja, beberapa performa film-film superhero mulai memburuk, seperti Ant-Man and the Wasp: Quantumania, yang hanya meraup 214 juta USD, “Shazam! Fury of the Gods”, 75 juta USD, dan “Black Adam”, 393 juta USD, jauh di bawah ongkos produksi.

Menurut Franco & Zimbardo (2007), dalam konsep “heroic imagination”, kisah-kisah yang menunjukkan kepahlawanan adalah metode yang sangat kuat, terutama untuk anak-anak dan orang muda di era digital sekarang, sangat menginspirasi mereka untuk menjadi seperti karakter dalam cerita tersebut.

Asalkan plotnya jangan monoton dan berulang seperti kisah di Konoha. Sehingga masyarakat tak kena “superhero fatigue”. Semuanya pun tertuju pada satu hal yakni: perubahan dan perbaikan! Yuk bisa yuk. Oke gas, oke gas!

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Terima Kasih Amsakar untuk Dukungan Imam Masjid dalam Pembangunan Kota Batam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *