News  

Dinas Sosial Kota Batam, Bekerja dalam Senyap Tangani Masalah Kemanusiaan

HANYA karena kita tak nampak, namun bukan berarti tak ada. Demikian bakti yang dilakukan pegawai di Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos) Kota Batam menanggulangi penyandang masalah kesejahteraan sosial.

“Hampir tiap hari kami terima orang terlantar. tua, muda, anak-anak. Pokoknya semualah pak,” tutur Addi Harnus, SE, Kepala Seksi Jaminan Sosial Dinsos Kota Batam.

Dia pun mengisahkan peristiwa yang ditanganinya Senin (29/6/2020) lalu. Ketika itu ada laporan yang masuk ke Sekretaris Daerah Kota Batam H Jefridin, bahwa ada seorang bapak di Sekupang yang kelaparan bersama kedua anaknya.

“Pak Sekda memberitahukan kepada Pak Sekdis (Sekretaris Dinsos Batam Leo Putra), hingga kemudian disampaikan kepada kami,” terangnya.

Dengan sigap, saat itu juga langsung dilaksanakan. Tak lupa Adi mengajak Afrizon Johar SE, selaku Lurah Patam Lestari, Kecamatan Sekupang

Hari sudah lewat Maghrib ketika tim Dinsos bergerak mencari orang yang dimaksud. “Alhamdulillah, pukul 20.00 WIB setelah dicari berkeliling akhirnya ketemu,” jelas petugas Dinsos ini.

Bersama petugas Dinsos dan Lurah, ayah dua putra ini pun diajak rumah makan terdekat untuk makan malam. Adi dan Afrizon sempat terenyuh melihat lahapnya mereka makan.

Tujuan makan malam ini, untuk mencari suasa santai tentang hal apa yang dialami bapak dua anak ini.

Dari sini diketahui, yang bersangkutan bernama Rf (40). Dia berasal dari Barik Motor, Kijang, Kabupaten Bintan.

Rf pergi ke Batam bersama dua putranya yang masih kecil untuk mencari kerja, setelah sang ibu yang bekerja di Malaysia, hingga saat ini tak ada kabar berita.

“Pak Rf masih menganggur. Saat ini kost di ruko dekat serba 8000, Sekupang bersama dua anaknya,” jelas Adi.

Adi pun menawarkan bantuan kepada Rf untuk pulang ke daerah asal di Barik Motor, atau ke Dumai, tempat mertuanya. Supaya kedua putranya terawat.

“Bapaknya (Rf) tak mau. Lalu saya coba tawarkan anaknya dititip di panti asuhan supaya dia bisa bekerja. Tetap juga gak mau,” ucap Adi.

Kasus semacam ini, menurut Adi, banyak dia temui di Batam. “Kita coba carikan solusi, tapi gak mau,” jelasnya.

Dia mencontohkan, pernah suatu ketika menangani kasus pendatang yang terlantar karena sakit. Dia di Batam sebatang kara.

Akhirnya pihak Dinsos membawanya ke rumah sakit. “Begitu sembuh, pihak rumah sakit balkkkan ke Dinsos. Setelah itu kita tawarkan balik ke kampungnya. Tapi gak mau. Dia maunya di Batam. Kan pening kita dibuatnya,” pungkas Adi. ***

Exit mobile version