FILSUF Fenomenologi bernama Martin Heidegger menulis buku “Being and Time” yang merupakan terjemahan dari karya aslinya dalam bahasa Jerman, “Sein und Zeit”.
Heidegger membedakan dua macam waktu dengan istilah Jerman, “Innerzeitigkeit” dan “Zeitlichkeit”. Istilah “Innerzeitigkeit” diartikan sebagai “keberadaan di dalam waktu”.
Sementara istilah “Zeitlichkeit” bermakna “kesementaraan” dan istilah ini hanya patut disematkan pada manusia yang diistilahkan oleh Heidegger dengan “Das Sein’.
Dengan kata lain, Heidegger mengajak manusia untuk melihat dirinya dan waktu keseharian bukan sekedar menjadi manusia yang berhasrat untuk mencapai sesuatu dan dikendalikan oleh sesuatu yang hendak dicapainya dengan penuh hasrat, melainkan merenungkan dan menghayati makna eksistensi dirinya dalam kemewaktuan.
Beberapa saat lalu kita mengakhiri waktu obyektif (zeitlichkeit) di tahun 2020 dan memulai waktu obyektif yang baru di tahun 2021.
Marilah kita tidak hanya menjadi obyek yang larut dalam keseharian dan kehilangan orientasi diri namun menjadi subyek yang sadar untuk menghayati dan memaknai waktu (innerzeitigkeit) untuk berbuat lebih baik bagi sesama dan dunia. ***
_________
Dilengkapi sumber tulisan Teguh Hindarto
