Haru, Jauh-jauh Datang ke Museum Batam, Kyai Bawean Doakan Raja Ali Haji

ENGKU PUTRI, KataBatam– Seorang lelaki setengah baya berdiri tertegun di depan lukisan Raja Ali Haji. Lama ia memandangi lukisan itu. Sejurus kemudian ia mengangkat kedua telapak tangannya, seraya berdoa.
Peristiwa ini terjadi di Museum Batam Raja Ali Haji, di Dataran Engku Putri, Kota Batam, Minggu (16/10/2022).

Penasaran, KataBatam mendekati lelaki tersebut. Dari perbincangan singkat, ditemukan fakta bahwa lelaki berambut panjang berpeci hitam itu adalah seorang kyai dari Pulau Bawean, Jawa Timur. Namanya Ahmad Buang Aziz.

“Tadi saya mendoakan beliau, karena beliau punya jasa besar. Semoga ruhnya dicucuri rahmat oleh Allah SWT,” jelas lelaki yang mengaku tiba di Batam pada Sabtu (15/10/2022) sore itu.

Peristiwa ini memancing perhatian Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Batam, Yusfa Hendri, yang kebetulan ada di tempat tersebut.

Serta merta, Yusfa mendekat dan berbincang dengan sang kyai. Bahkan, mantan Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam itu menjelaskan secara detail pencipta Gurindam Dua Belas, yang pada 10 November 2004, dianugerahi pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tepat saat peringatan Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, Jakarta.

“Raja Ali Haji adalah adalah pengarang Melayu abad ke-18 yang termasyhur. Beliau lahir di Selangor pada tahun 1808, dari perkawinan Raja Ahmad (Engku Haji Tua ibni Raja Haji Fisabilillah) dengan seorang puti Selangor bernama Hamidah,” jelas Yusfa.

Yusfa juga menjelaskan tentang maha karyanya Raja Ali Haji, Gurindam Dua Belas (1847), yang menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Juga bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, Kamus Logat Melayu Johor, Pahang, Riau Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus eka bahasa pertama Nusantara.

“la juga menulis syair Siti Shianah, syair Suluh Pegawai, Hukum Nikah, dan syair Sulyan Abdul Muluk. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis bingkisan berharga tentang sejarah Melayu, menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap,” terang Yusfa.

Kebesaran nama Raja Ali Haji ini, kemudian disematkan sebagai nama Museum Batam. “Pemilihan nama Museum “Raja Ali Haji” oleh Wali Kota Batam H Muhammad Rudi (HMR) pada 10 Oktober 2019, berdasarkan usulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam,” ungkapnya.

Selanjutnya Yusfa mengajak Kyai Buang meninjau sisi lain museum, sambil melihat koleksinya yang mengisahkan perkembangan Kota Batam, mulai zaman penjajahan, hingga era modern saat ini. (ski)

Exit mobile version