I N S I G H T

SEBELUM internet ditemukan, tentu saja mensin pencari google belum ada di muka bumi, manusia selalu menanyakan hal yang tak diketahuinya melalui surat kepada pustakawan.

Beberapa perpustakaan di Amerika Serikat, banyak yang masih menyimpan daftar pertanyaan tersebut.

Misalnya, di tahun 1950-an ada yang menanyakan beberapa hal. Misalnya, apa makna mimpi dikejar gajah? Apa jenis apel yang dimakan Eva (Siti Hawa) di Surga? Apakah Plato, Aristoteles dan Socrates itu sama?

Bahkan ada pertanyaan, kenapa selalu ada tupai di setiap lukisan di Inggris pada abad ke 18? Bagaimana cara menjinakkannya, sehingga tak menggigit si pelukis?

Manusia memang mahluk yang selalu ingin tahu akan segala hal, sebab mereka sadar bahwa ada begitu banyak hal yang belum diketahui.

Tidak tahu itu bukan suatu kehinaan, namun bagian dari pengetahuan. Dari sinilah kemudian muncul aliran skeptisisme yang menjadi prinsip-prinsip dasar sains.

“Dalam sains, kami seperti anak-anak yang mengumpulkan beberapa kerikil di pantai pengetahuan, sementara lautan luas yang tidak diketahui terbentang di hadapan kami,” kata Sir Isaac Newton, Ilmuwan, ahli matematika dari Britania Raya (1642-1727).***

Exit mobile version