SALAWAT BURDAH ditulis oleh Imam Al-Bushiri pada abad 7 H atau abad 13 M, dengan kekuatan spiritual sangat dalam.
Imam Bushiri merangkai cinta dan rindunya kepada Nabi Muhammad Saw secara diam-diam.
Selesai menulisnya, ia lafalkan setiap hari di dalam uzlahnya.
Sampai suatu malam, ia bermimpi melafalkan shalawat Burdah itu di hadapan Nabi, dan Nabi sangat suka mendengarkannya.
Nabi lantas memberikan burdah (selimut) kepada Imam Bushiri.
Malam itu juga Imam Bushiri bangun dalam kondisi sehat, padahal sebelumnya terkena serangan stroke cukup lama. Tak seorang pun tahu bahwa Imam Bushiri menuliskan salawat tersebut, kecuali dia, Nabi dan Allah.
Esok harinya, ada seorang pemuda yang tiba-tiba berkata kepada Imam Bushiri, “Perlihatkanlah kepadaku bait-bait shalawat yang tuan tuliskan!’
Imam Bushiri terkejut. Dari mana pemuda ini tahu bahwa dirinya menulis shalawat Burdah itu?
Pemuda itu menjelaskan, “Tadi malam aku bermimpi melihat Nabi mendengarkan lantunan salawat yang dibacakan oleh seseorang. Seseorang itu adalah tuan, Imam Bushiri.”
Imam Bushiri pun akhirnya memperlihatkan bait-bait shalawatnya. Kemudian pemuda itu membacakannya di hadapan para murid Imam Bushiri.
Sejak saat itu, salawat Burdah menjadi terkenal dan selalu dibacakan oleh kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. ***
_________
Sumber: Tulisan Taufik Damas.
Foto: ilustrasi
Klik juga Kata Batam Konvergensi Media:
𝑊𝑒𝑏𝑠𝑖𝑡𝑒: ℎ𝑡𝑡𝑝𝑠://𝑘𝑎𝑡𝑎𝑏𝑎𝑡𝑎𝑚.𝑐𝑜𝑚/
𝐼𝑛𝑠𝑡𝑎𝑔𝑟𝑎𝑚: ℎ𝑡𝑡𝑝𝑠://𝑤𝑤𝑤.𝑖𝑛𝑠𝑡𝑎𝑔𝑟𝑎𝑚.𝑐𝑜𝑚/𝑘𝑎𝑡𝑎_𝑏𝑎𝑡𝑎𝑚/






