TAKZIM: Calon Wakil Gubernur Kepri H Aunur Rafiq, duduk bersila seraya takzim mendengar ceramah agama dalam kajian usai Subuh, di masjid Karimun, belum lama ini. Perilaku yang baik akan memancarkan karakter yang baik juga.
SUATU HARI, Khalifah Abu Bakar RA, memuntahkan makanan yang sudah dimakannya, setelah dikabari bahwa itu tidak jelas asal usulnya. Inilah yang dinamakan sikap warak.
Dilansir dari Republika, dalam ajaran Islam, sikap wara menempati posisi yang tinggi lagi mulia. Ia bagian dari ketakwaan yang mana takwa tidak akan tercapai kecuali diiringi sikap wara.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang hamba tidak bisa mencapai derajat takwa sehingga ia meninggalkan yang tidak dilarang karena khawatir dari sesuatu yang dilarang.”
Sebagian ulama membagi wara kepada tiga tingkatan. Pertama, meninggalkan yang haram, dan ini umum untuk seluruh manusia. Kedua, menahan diri dari yang syubhat, ini dilakukan oleh sebagian kecil manusia.
Ketiga, meninggalkan kebanyakan perkara yang mubah dengan mengambil yang benar-benar penting saja, ini dilakukan oleh para Nabi, orang-orang yang benar (shiddiqin), para syuhada, dan orang-orang saleh.
Agar kita meraih sifat wara, maka jangan semua dilantak. Tinggalkanlah segala sesuatu yang tidak berguna dan meragukan. Jika yang meragukan saja sudah terhindar, apalagi yang haram.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
