IN2PIRASI PAGI: Sang Dwitunggal Kepri

KEPULAUAN RIAU (Kepri) yang maju kian mendekati kenyataan, setelah calon Gubernur Kepri nomor urut 2, H Muhammad Rudi (HMR), tidak akan one man show –atau kata anak sekarang, “mansur” alias main (makan) seorangan– ketika menjabat nanti.

HMR tegas menyebut akan memfungsikan H Aunur Rafiq, secara penuh sebagai wakil gubernur, sesuai yang digariskan undang-undang. Hal ini sebagaimana idealnya pola hubungan dwitunggal antara Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Sejarah mencatat, sebenarnya dwitunggal ini punya karakter bertolak belakang. Bung Karno, terkenal flamboyan, humoris dan berapi-api, terutama jika berpidato di depan massa yang banyak, ia beragitasi dan mengeluarkan semboyan yang membakar dan menggelegar.

Sungguh 180 derajat berbeda dengan Bung Hatta yang terkenal tidak banyak bicara, berpendirian teguh dan rendah hati. Bung Hatta berpidato dengan datar, tapi tegas, dan terstruktur. Kita tak akan menemukan ia berpidato dengan emosi.

Namun Keduanya dikenal pernah punya pidato yang mahsyur. Bung Karno dengan pledoi “Indonesia Menggugat”-nya di pengadilan Bandung ketika diadili pemerintah kolonial Belanda.

Bung Hatta tak kalah hebat dengan “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka) di pengadilan Den Haag yang terkenal dengan ucapan, “Lebih baik Indonesia tenggelam ke dasar lautan daripada dijajah bangsa lain”.

Meski berbeda karakter, tapi dalam memutuskan persoalan-persoalan besar bangsa, Sukarno dan Hatta bisa menyatu. Caranya bermusyawarah terlebih dahulu. Setelah sepakat, dikeluarkan sebagai pendapat bersama, dan akan dibela oleh keduanya. Itulah Dwitunggal!

Beda dengan pemimpin one man show. Saat mencalonkan manis bukan main, tapi setelah menjabat, sang wakil digusur. Bukannya maju, malah mundur. Namanya juga mansur.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version