INSPIRASI 18 RAMADAN: Pilih yang Jujur

RASULULLAH Muhammad SAW dikenal dengan gelar Al-Amin yang berarti yang dapat dipercaya, dan Abu Bakar dikenal sebagai Ash-Shiddiq yang berarti yang benar dan jujur. Keduanya adalah contoh nyata tentang betapa pentingnya kejujuran dalam Islam.

Kejujuran adalah nilai moral yang dihargai oleh banyak etnis, budaya, dan agama, bukan hanya dalam Islam. Kejujuran mencakup aspek-aspek seperti berterus terang, setia, adil, tulus, dan dapat dipercaya.

Bahkan di zaman modern ini, kejujuran menjadi value tersendiri dalam membangun kesuksesan. Sampai-sampai muncul ungkapan, “Negeri ini tak kekurangan orang pintar, tapi defisit orang jujur.”

Helmy Yahya mengungkap hasil survei, bahwa para pemimpin perusahaan lebih memilih karyawan yang jujur daripada orang yang pintar.

Mereka beralasan bahwa seorang karyawan yang jujur tetapi kurang pintar, bisa disekolahkan agar menjadi pandai Tetapi kalau sudah tidak jujur, sulit untuk diubah. 

Bung Hatta, menurut Helmy Yahya, adalah tokoh yang sangat-sangat menjunjung tinggi kejujuran. Ia menambahkan, jujur adalah bagian dari attitude dan aptitude.

Untuk apa punya orang yang pintar tetapi tidak baik etikanya. Suka manipulatif, khianat, playing victim dan menyalahkan orang lain.

Allah SWT berfirman dalam Quran surat Al-Ahzab, ayat 23. Artinya: Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya).

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Pimpinan BAZNAS RI Ikut Bangga, Berkat HMR Batam Tak Lagi Seperti Kampung Besar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *