RENDAH HATI: Ketua Umum Persatuan Istri Karyawan Badan Pengusahaan Batam Hj Marlin Agustina, didampingi Kepala BP Batam H Muhammad Rudi (HMR), menyerahkan bantuan kepada masyarakat dalam sebuah acara baru-baru ini. Orang hebat akan selalu rendah hati.
ABU Abdullah Malik ibn Anas ibn Malik ibn ‘Amr ibn al Harits atau dikenal dengan nama Malik ibn Anas, lahir di Madinah, pada tahun 93 Hijriah atau 711 Masehi.
Diriwayatkan bahwa ia pernah berguru pada 900 orang syekh, di antaranya adalah Rabiah al Ra’yi, Abdurrahman ibn Harmuz, Nafi’ al-Dailami, Ibnu Syihab al-Zuhri dan Ja’far ash-Shadiq.
Imam Malik juga melewati hidupnya pada masa 13 kekhalifahan, 8 khalifah masa Bani Umayah dan 5 khalifah masa Abbasiyah. Karena itu hubungannya dengan para pemimpin sangat luas. Di hadapan penguasa, Malik adalah seorang guru dan penasihat.
Begitu baiknya hubungan antara Malik dengan penguasa, maka tidak jarang para khalifah memberi hadiah kepada Imam, dan ia pun tidak keberatan untuk menerimanya.
Meski demikian, integritas Malik tetap terjaga. Terbukti dari sebuah peristiwa yang mengakibatkannya harus masuk penjara karena ia menolak untuk menarik kembali pendapatnya.
Imam Malik juga memiliki keutamaan kekuatan firasat, sehingga dapat mengetahui apa yang tersirat dalam jiwa seseorang.
Seperti di saat Imam Malik bertemu dengan seorang pemuda seraya menanyakan namanya. Pemuda itupun menjawab “Muhammad”.
Imam Malik kemudian berkata “Wahai Muhammad bertakwalah kepada Allah, jauhi maksiat, kelak kau akan menjadi orang besar”. Pemuda inilah yang kemudian kita kenal dengan Imam Syafi’i.
Meski berilmu tinggi, akan tetapi Imam Malik tetap rendah hati dan tidak menyombongkan ilmunya. Apalagi sampai membangga-banggakan titel dan lain-lain. “Pelajarilah adab (budi pekerti) sebelum mempelajari suatu ilmu,” ujarnya.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
