MENGGAPAI KESEJAHTERAAN: Wali Kota Batam H Muhammad Rudi (HMR), dan Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj Marlin Agustina, doa bersama dalam sebuah acara belum lama ini. HMR selalu menanamkan kepada masyarakat rasa saling memiliki terhadap Kota Batam, agar kota ini tetap terjaga dan pemerintahan pun berjalan bersih.
PEMIKIR Muslim ternama yang hidup pada abad ke-14, Ibnu Khaldun, menilai penting adanya rasa kebersamaan, serta senasib dan sepenanggungan, atau disebutnya sebagai “ashabiyah” sebagai penjamin kelangsungan sebuah negara. Jika ini sudah hilang, maka akan melahirkan antara lain perilaku korupsi.
Khaldun mengamati jatuh bangunnya kesultanan dan menulisnya kesimpulannya dalam buku The Muqaddimah (Mukadimah). Buku tersebut juga masuk dalam daftar bacaaan CEO Facebook Mark Zuckeberg.
Ibnu Khaldun menulis, pada awal berdirinya kesultanan ada perasaan ashabiyah yang kuat karena pemimpin dan masyarakat sama-sama berjuang mendirikan negara.
Lalu seiring bergantinya generasi dan datangnya kemakmuran, ashabiyah hilang dan diganti mengejar kemewahan dan kenikmatan hidup.
“Agama dan kesejahteraan tergeser oleh keinginan mencapai kemewahan hidup,” kata Khaldun.
Kemewahan hidup itu tidaklah mudah dicapai karena membutuhkan biaya besar. Maka, kata Khaldun, muncullah korupsi karena orang berusaha mengejar kemewahan dengan cara-cara yang tidak benar.
Jika ada ashabiyah atau perasaan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakatnya untuk mengejar tujuan bersama, maka negara bisa terhindar dari korupsi dan bisa sejahtera untuk waktu yang panjang. Jika tidak, maka negara akan hancur oleh perilaku korup.
“Jika korupsi sudah merusak karakter dan keagamaan seseorang, rasa kemanusiaannya sudah hilang, maka dia tak ada bedanya dengan binatang,” kata Khaldun.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






