“SEORANG terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan,” tulis Pramoedya Ananta Toer, dalam Bumi Manusia (1975).
Lalu seperti apa maksud adil itu? Sederhananya, adil bisa diartikan perbuatan atau keputusan yang kita lakukan tak mengusik hak orang lain. Ingat unsur pasal: melawan hak berarti melawan hukum!
Lawan adil adalah zalim, atau tiran. Orang semacam ini dapat dikategorikan sakit jiwa. Betapa tidak, dia senang melihat saat orang lain terganggu bahkan susah.
Lihat program atau usaha orang bagus, timbul iri hati dan dengki untuk memiliki. Lalu dengan segala upaya melakukan permufakatan jahat: melarang, bahkan merampas dengan keji sehingga saingannya itu kehilangan hak-haknya.
Untuk melegitimasi tindakannya, maka dicarilah dalih-dalih pembenaran. Kurang psikopat bagaimana lagi orang semacam ini? Wajar jika Filsuf Plato berkata,
“Berbuat tidak adil lebih memalukan dari pada menderita ketidakadilan!”
Perbuatan tak adil adalah penyakit jiwa. Maka dari itu, latihlah terus sikap adil kepada siapapun. Mulai dari anak, keluarga, saudara dan teman.
Jika ini terus kita asah dan asuh, maka kita akan tumbuh menjadi manusia, bahkan bangsa paripurna.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
