DARI 70 ribu kosa kata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hanya 10 ribu saja yang aktif digunakan. Itulah kenapa seolah-olah deret kata dalam bahasa Indonesia terbatas. Padahal sejatinya kita cuma malas saja menggali padanan kata baru.
Kekayaan bahasa Indonesia ini tak terlepas dari akarnya, Bahasa Melayu, yang mampu menyerap bahasa lain, baik Arab, Belanda, Inggris hingga Spanyol. Juga ratusan bahasa tradisional yang tersebar Nusantara.
Historia, mengutip Peter Carey. Kuasa Ramalan : Diponegoro & Akhir Tatanan Lama di Jawa. KPG, 2008, menulis: bahasa Melayu kian berkembang, setelah menjadi bahasa perdagangan di Nusantara, akibat dari Imperium Sriwijaya yang menguasai Sumatera, Banten, dan sebagian Kalimantan.
Bahasa Melayu kemudian digunakan sebagai bahasa dakwah oleh para ulama untuk menyebarkan Islam hingga ke Sulawesi, Maluku, dan pesisir Papua. Karenanya berkembanglah varian Melayu baru seperti Melayu Manado, Melayu Maluku Utara, dan Melayu Papua.
Ketika Belanda melakukan penjelajahan ke Nusantara, mereka membuat basis pertama di Maluku dengan Ambon sebagai ibukotanya. Belanda makin mengintensifkan penggunaan bahasa Melayu dengan merekrut orang lokal yang bisa berbicara bahasa Melayu.
Hingga akhirnya Bahas Melayu masuk ke Jawa. Saat itu banyak ketika Pejabat Kolonial Belanda maupun tuan tanah keturunan Belanda, ketika berbicara dengan orang Jawa, memilih menggunakan Bahasa Melayu Pasar (Bazaar Malay).
Semoga uraian singkat ini akan semakin menumbuhkan kebanggaan kita berbahasa Indonesia. Karena bahasa menunjukkan bangsa.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
