HIDUP di lingkungan yang stagnan itu tak nyaman. Orang lain sudah mencapai bulan, ini masih jadi bulan-bulanan. Memang hidup bukan semata perlombaan, akan tetapi akan lebih indah jika bergerak maju.
Namun ada juga orang yang nyaman hidup di lingkungan stagnan hingga puluhan ribu tahun. Mereka adalah Jarawa Kuno, yang menghuni Pulau Sentinel Utara, di Kepulauan Andaman dan Nikobar, sebuah wilayah India.
Suku Sentinel diyakini bermigrasi dari Afrika pada 50.000 tahun lalu. Namun hingga di zaman digital ini mereka masih hidup layaknya manusia di zaman pra sejarah: berburu dan meramu.
Mereka menggunakan tombak, busur, dan anak panah untuk berburu binatang. Mereka juga mengumpulkan tanaman untuk dimakan dan dijadikan rumah. Mereka makan akar, kura-kura, dan menyimpan tengkorak babi hutan.
Meski sudah tertinggal jauh dengan peradaban manusia lain, mereka seolah nyaman untuk tetap stagnan. Padahal di akhir abad ke-20, pemerintah India, berusaha melakukan kontak.
Namun, disambut dengan panah dan tombak. Bahkan di tahun 2018, anak panah mereka menyebabkan kematian pria AS John Allen Chau, hingga membuat dunia heboh.
Hingga akhirnya India menutup pulau ini dari orang asing. Selain karena alasan agresif, interaksi dengan orang luar dapat menjadi bencana besar bagi kesehatan suku Sentinel, sebab mereka tidak memiliki ketahanan terhadap penyakit asing.
Hidup ini pilihan. Kita yang sekarang adalah pilihan yang kita ambil di masa lalu. Kita memilih untuk maju meski harus keluar dari zona nyamam, sedangkan orang-orang Sentinel memilih tetap di zona nyaman, meski stagnan. Bijaklah memilih.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Balada Daerah Stagnan
