INSPIRASI PAGI: Beli Kucing dalam Karung

KITA pasti sering mendengar ungkapan, “seperti membeli kucing di dalam karung”. Maksudnya, agar kita lebih berhati-hati dalam bertransaksi.

Peribahasa ini memang agak aneh didengar. Sebab menempatkan “kucing yang dijual” sebagai perumpamaan. Namun setelah diteliti, ternyata asalnya dari serapan kiasan Belanda, “een kat in de zak kopen”.Kiasan yang setara dalam bahasa Inggris ialah “buy a pig in a poke” atau beli babi dalam karung.

Lebih luas lagi, ternyata peribahasa yang menggunakan kucing sebagai perumpamaan kerap ditemukan dalam bahasa dan budaya negara-negara lainnya di Eropa, sejak tahun 1500-an silam.Bisa jadi akhirnya kiasan ini sampai ke Indonesia karena dibawa saat masa kolonial dahulu.

Konon, dulu orang Eropa biasa memasukkan binatang yang dijual dalam karung. Misalnya kelinci, ayam, dan anak babi. Kenapa ada kelinci? Ya, karena selama abad ke-14 dan ke-15, orang Eropa biasa makan kelinci. Sehingga di Spanyol muncul peribahasa, “dar gato por liebre”.

Semua pribahasa itu kurang lebih maksudnya sama: bentuk tipu daya dalam transaksi: Membeli kelinci, ayam, atau anak babi dalam karung, ternyata isinya kucing.

Karena itu muncul peribahasa lanjutan, “Kucing sudah keluar dari karung, dan tidak ada jalan kembali.” Maksudnya, jangan buka rahasia. Kalau terbongkar tak akan bisa kembali.

Ah, agar lebih nyaman kita pakai ungkapan dari negeri sendiri saja, tepatnya dari Minangkabau, Sumatera Barat. “Tabali mentimun dalam karuang, indak jaleh luruih jo bungkuaknyo.” Maksudnya, hati-hati saat membeli mentimun di dalam karung, karena kita tidak bisa melihat (apakah timun itu) lurus atau bengkok.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

_____FOTO ILUSTRASI: Si Pooh dan anaknya, Mamang (jingga). Tapi ini bukan kucing yang dibeli dalam karung, ya gaes…

Exit mobile version