DALAM sebuah penelitian di tahun 2015, Malgorzata Puchalska-Wasyl, seorang psikolog di Universitas Katolik John Paul II di Lublin, Polandia, bertanya kepada para mahasiswa untuk menjelaskan berbagai jenis suara batin yang mereka ajak bicara.
Hasilnya, ada daftar empat lawan bicara internal yang umum: teman yang setia; orang tua yang ambivalen; saingan yang sombong; dan anak yang tidak berdaya.
Hal ini juga pernah diteliti Famira Racy, koordinator di The Inner Speech Lab di Universitas Mount Royal, Kanada, dengan menggunakan metode yang disebut daftar pemikiran.
Hasilnya ditemukan bahwa para mahasiswa dalam penelitian ini berbicara kepada diri mereka sendiri tentang segala hal dari sekolah sampai emosi mereka, orang lain, dan diri mereka sendiri sembari beraktivitas.
“Ada cukup penelitian yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa ucapan batin memainkan peran penting dalam perilaku pengaturan diri, refleksi diri, pemecahan masalah, pemikiran dan penalaran kritis dan pemikiran masa depan,” kata Racy.
Bagaimana jika orang tak lagi mampu bercakap-cakap dengan batinnya? Jill Bolte Taylor, seorang neuroanatomist, mengisahkan pengalamannya setelah pulih dari strok yang dideritanya pada usia 37 tahun.
Semua ini dia tulis dalam My Stroke of Insight, yang berisi tentang bagaimana rasanya mengalami “pikiran yang diam” tanpa percakapan batin selama beberapa minggu:
“Betapa hal itu merupakan pekerjaan yang menakutkan, hanya duduk saja di tengah-tengah pikiran diam saya… mencoba mengingat, Siapakah saya? Apa yang saya kerjakan?” ungkapnya. Semengerikan itu!
Benar kata Racy, “Pembicaraan batin adalah lampu penerang di dalam kamar gelap pikiran kita.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Disarikan dari artikel BBC
INSPIRASI PAGI: Berbicara dengan Batin
