BARU-BARU ini produk UMKM Kota Batam, mampu “berbicara” ajang bergengsi ITT Investment Expo 2025, di Kota Bandung. Namun jangan puas dulu, karena saat ini kita sudah memasuki era “the attention economy and the new net”. Apa itu?
Situasi pasar seperti ini sudah diprediksi Michael Goldhaber, sejak tahun 1997 silam, di mana banyak orang yang sudah bergeser dari e-commerce ke content commerce. Artinya, kekuatan konten telah menjadi perhatian besar.
Kenapa? Karena social media ternyata bisa menimbulkan efek reaksi spontan dari masyarakat. Dari reaksi spontan ini, diharapkan ada perhatian terhadap produk mereka, dan diakhiri dengan “check-out”!
“Dulu kan orang cuma taruh produknya di Tokopedia (etalase digital). Sekarang, Tokopedia sudah dengan TikTok. Nah, TikTok merubah permainan. Semua orang bikin konten, berebut perhatian,” jelas pakar manajemen, Profesor Rheinald Kasali.
Jadi, agar UMKM Batam bisa bersaing di era digital, maka semua… ya, semua harus bisa membuat konten menarik, agar dapat membantu menjangkau pelanggan lebih luas, membangun engagement, dan meningkatkan kesadaran merek.
Jangan heran jika saat ini di Tiktok, banyak bermunculan profesi baru yang disebut “afiliator”. Mereka bukan sekadar taruh gambar, tetapi berbicara, membuat konten, dan menjadi content creator.
“Bisnis atau produk tidak cukup hanya ditaruh di etalase begitu saja. Bisnis itu perlu membangun hubungan, interaksi emosional, dan kepercayaan. Dari sana konsumen berpartisipasi. Itulah yang disebut dengan engagement,” jelas Rheinald.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
________
CONTENT COMMERCE: Ketua TP-PKK Kota Batam Hj Erlita Sari Amsakar, meninjau gerai UMKM Kota Batam, dalam ajang 15th Indonesia Tourism & Trade (ITT) Investment Expo 2025, di Kota Bandung, Kamis (23/10/2025). Saatnya UMKM Batam rajai e-commerce.
INSPIRASI PAGI: Content Creator UMKM
