BUYA Hamka pernah berkata, “Tak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memiliki waktu tak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan.”
Filsuf Fenomenologi bernama Martin Heidegger, menjabarkan soal waktu ini lebih detail lagi dalam bukunya, “Being and Time”, yang merupakan terjemahan dari karya aslinya dalam bahasa Jerman, “Sein und Zeit”.
Heidegger membedakan dua macam waktu dengan istilah Jerman, “Innerzeitigkeit” dan “Zeitlichkeit”. Istilah “Innerzeitigkeit” diartikan sebagai “keberadaan di dalam waktu”.
Sedangkan “Zeitlichkeit” bermakna “kesementaraan” dan istilah ini hanya patut disematkan pada manusia yang diistilahkan oleh Heidegger dengan “Das Sein”.
Dengan kata lain, Heidegger mengajak manusia untuk melihat dirinya dan waktu keseharian.
Bukan menjadi manusia yang berhasrat mencapai sesuatu dan dikendalikan oleh sesuatu yang hendak dicapainya dengan penuh hasrat, melainkan juga merenungkan dan menghayati makna eksistensi dirinya dalam lini masa. Sederhananya, tahu diri.
Bagaimana menurut Anda?(ski)
