INSPIRASI PAGI: Disertasi untuk Bangsa

WAKIL WALI KOTA sekaligus Wali Kota Batam terpilih, H Amsakar Achmad resmi meraih gelar “doktor” setelah berhasil menjalani ujian sidang terbuka Program Doktor Ilmu Pemerintahan di ruang sidang Kampus IPDN, Pasarminggu, Jakarta Selatan, DKI, Jumat (14/2/2025).

“Pak Am,” sapaannya, berhasil meraih predikatnya “Sangat Memuaskan” dengan nilai 3,81, usai berhasil mempertahankan disertasinya di depan para profesor, yang berjudul “Implementasi Kebijakan Ex-Officio dalam Pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas”.

Berbeda dengan skripsi (S1), dan tesis (S2/Magister), disertasi merupakan bentuk karya ilmiah yang digunakan untuk mengevaluasi kemampuan mahasiswa (S3/Doktor) dalam mengidentifikasi, memecahkan masalah secara ilmiah, dan memberikan inovasi ilmiah yang baru melalui penelitian.

Meski tujuannya sama: sebagai karya ilmiah yang harus disusun sebagai syarat kelulusan dari perguruan tinggi, dalam skripsi, hanya menghasilkan analisis yang sederhana dan terbatas pada lingkup studi yang diambil oleh mahasiswa. Sederhananya: masih sebatas “apa”.

Sedangkan tesis, menuntut mahasiswa untuk menghasilkan kajian yang lebih kompleks dan mendalam terhadap sebuah topik. Di sini  membutuhkan analisis yang lebih kritis serta penyusunan argumen yang lebih kuat. Intinya sudah membahas tentang “bagaimana”.

Sedangkan disertasi memiliki level kesulitan yang paling tinggi dibanding skripsi dan tesis. Tak hanya soal apa dan bagaimana, tapi sudah “mengapa”. Itupun masih ditambah mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, hingga akhirnya menemukan atau mengembangkan teori baru.

Bahkan Puslatdik Kemendikbud Ristek menuliskan, bahwa disertasi juga harus bisa berdampak pada masyarakat, bangsa, dan negara.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version