SUATU saat filsuf asal Prancis, Voltaire (1694 – 1778), berdoa, “Tuhan, lindungilah aku dari teman-temanku, (kerena) aku dapat melindungi diri dari musuh-musuhku.”
Doa Voltaire ini mirip ungkapan terkenal Cornelius Vanderbilt, “Saya tak takut pada musuh, tapi demi Tuhan, kamu harus waspada jika berada di antara teman-temanmu.”
Atau ungkapan anonim yang menyebut, “Aku tak takut pada musuh, karena siap menghadapinya (mereka di depanku). Justru yang aku takutkan teman seiring, karena mereka ada di belakangku.”
Doa dan pernyataan ini menjelaskan bahwa dalam hidup manusia memang tak ada yang namanya teman abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.
Maka tidak ada yang bisa menjamin teman akrab, bahkan yang sudah dibantu sekalipun, tidak akan berkhianat; menusuk dari belakang bila ada kesempatan. Bagaikan Brutus cs pada Julius Caesar.
Selama di dalamnya ada kepentingan dan pertaruhan karier, maka “aku” dan “kamu”, “kita” dan “mereka” akan tumbuh.
Hanya saja ada yang tajam, ada yang tidak. Ada yang terang-terangan, ada yang slow but sure. Namun intinya sama: menikam.
Bagaimana menurut Anda?
