“TIDAK ada kawan dan lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.” Sebenarnya kutipan ini tak hanya berlaku dalam dunia politik, tapi juga dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Kredo yang menumbuhkan sifat dan sikap baik juga buruk ini, sebenarnya sudah dipegang sejak manusia masih menjalani hidup berpindah-pindah sebagai pemburu dan pengumpul.
Mengapa begitu? Kata Thomas Hobbes, filsuf Inggris pencetus teori kontrak sosial, karena seluruh perilaku manusia ditentukan oleh kebutuhan mempertahankan diri atau takut akan kehilangan nyawa.
Dorongan inilah yang membuat pola hubungan antar-manusia sangat dinamis, selalu berubah-ubah, bahkan sebagian parameternya tidak bisa diduga. Love-hate relationship pun tak terelakkan. Dulu sayang, kini benci dan sebaliknya.
Makanya jangan merasa penting dalam kehidupan seseorang. Sebab bisa jadi saat ini kita disanjung, tapi esok hari dibuang begitu saja. Juga jangan terlalu membenci seseorang, karena bisa jadi esok kita memujanya.
Karena semakin bertambah usia seseorang, maka akan semakin pragmatis. Belum lagi ada pengaruh akibat terganggunya kesehatan fisik, dan yang paling tak disadari adalah kesehatan mental.
Bagaimana supaya langgeng? Maka hubungan tersebut harus terus diperjuangkan. Disebut demikian, karena ada kalanya kita harus menelan hal-hal tak nyaman. Orang menyebut ini pengorbanan.
Trust me baby, sometimes love just aint enough! Meminjam kata Keanu Reeves, “If you’re a lover, you gotta be a fighter. How so? Because if you don’t fight for your love, what kind of love do you have?”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Mengapa Harus Merusak?
