INSPIRASI PAGI: Hebat Tak Banyak Dalih

SIAP MAJU: Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR), memakai helm proyek saat menghadiri peresmian pabrik di Kota Batam, belum lama ini. Siap-siap membangun Kepri, Pak?

SELAMA ini kami sering menulis tentang kehebatan Kota Batam. Seperti pembangunan infrastruktur, hingga meroketnya pertumbuhan ekonominya di atas Provinsi Kepulauan Riau bahkan nasional.

Tujuannya: agar semua bisa meniru. Setidaknya terinspirasi, agar ikutan maju. Paling tidak dapat berbelanja semangat. Setidaknya diri sendiri tidak malas, dan tidak mudah berdalih.

Ternyata tak semua merespons baik. Ada saja reaksi yang justru negatif. Apalagi jika dihubung-hubungkan dengan politik. “Batam kan punya anggaran besar. Mana bisa dibanding-bandingkan?” dalihnya.

Kalau memang begitu (punya anggaran besar), kenapa baru sekarang, di era Wali Kota Batam/Kepala Badan Pengusahaan Batam H Muhammad Rudi (HMR) ini, Batam maju pesat menjadi kota baru yang modern dan berstandar internasional?

Tentu ini bukan hanya karena soal anggaran. Ada sisi lain, seperti semangat untuk maju. Caranya untuk maju. Dan pada perencanaan target kemajuan itu sendiri.

Namun jawaban semacam ini pasti akan dibantah lagi. Ah sudahlah. Intinya, kaum sebel ah… eh, denial akan selalu punya dalih untuk tidak bisa membuat dirinya maju.

Jadi teringat artikel Dahlan Iskan, “Banyak Dalih, Susah Maju”. Saat ia menulis tentang kemajuan Singapura, respons orang juga dalih. Padahal Singapura lebih belakangan merdeka dibanding Indonesia. Juga miskin sekali.

Tapi dalih selalu available: Singapura kan negara kecil. Hanya satu pulau mini. Penduduknya hanya 2 juta (saat itu). Pantas saja kalau lebih maju. Membangunnya gampang. Kita tidak usah iri. Apalagi menirunya.

Namun bagaimana dengan China (Tiongkok)? Inilah negeri yang miskinnya melebihi Indonesia. Yang besarnya melebihi Indonesia. Yang tahun merdekanya kurang lebih sama dengan Indonesia. Kok bisa maju?

Adakah kita masih punya dalih? Untuk ketidak-majuan kita? “Mungkin kita masih akan menemukan dalih lain. Misalnya: Tiongkok kan komunis. Yaaa… sudahlah kalau begitu,” ujar mantan CEO Jawa Pos Group ini.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  HMR, Best Future Leaders 2023, dan Marlin, Best Inspirasional Women 2023: Syabas!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *