INSPIRASI PAGI: Jangan Dipecah Ya Dek Ya

SAMPAI saat ini, Amerika masih kesulitan memulihkan polarisasi dan kebencian rasial yang meningkat sejak Barack Obama terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama dalam sejarah AS.

Kondisi ini kian diperparah ketika Donald Trump, mencalonkan diri hingga akhirnya terpilih sebagai presiden AS. Saat itu retorika kampanyenya sangat memecah belah dan anti-kemapanan.

Trump dengan sengaja memecah belah negara antara “Kita”, yakni orang Amerika “sejati” dan “Mereka” yaitu para imigran, kaum minoritas. Kemenangan Trump juga melahirkan kontra-mobilisasi akar rumput lainnya, kali ini di “Kiri” dan “Kanan”.

Gejala kematian demokrasi di Amerika Serikat setelah Donald Trump menjabat presiden inilah, yang menginspirasi Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, menulis buku “How Democracies Die”.

Apa yang dilakukan Trump ini tidak mustahil terjadi di negeri kita sendiri. Apalagi saat ini pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak akan digelar. Untuk itu para calon kepala daerah harus bijak dalam bernarasi.

Pesta demokrasi seyogianya momen mempersatukan anak-anak bangsa. Pilkada jangan sampai memecah belah. Jadikan keragaman sebagai kekuatan. Rangkul semua perbedaan. Bukan malah dimusuhi atau diancam akan dilaporkan bahkan ditangkap.

Hindari mengkotak-kotakkan rakyat dengan label kita dan mereka, kanan dan kiri, in-group dan out-group.

Sehingga, integrasi politik akan muncul, suara rakyat terpenuhi, dan pemimpin yang terpilih betul-betul merepresentasikan kebutuhan masyarakat.

Dengan begitu pemerintahan akan efektif, tidak ada lagi kebuntuan, bahkan pembelahan ini “gerobak” gue dan itu “gerobak” elu!

Bagaimana menurut Anda? (ski)
______
DISARIKAN DARI ARTIKEL: The Washington Post, Reuters, dan beberapa media massa Indonesia.

Exit mobile version