ADALAH sebuah hal yang wajar jika manusia senang saat terbebas dari masalah. Sayangnya banyak yang justru tidak mengambil pelajaran, malah sebaliknya berlaku sombong sehingga hatinya pun mengeras.
Sombong yang dimaksud di sini adalah membanggakan diri seolah paling disayang Tuhan, dengan menihilkan orang lain. “Dulu saya dizalimi, buktinya sekarang saya bisa begini, dan mereka begitu…” ujarnya bangga.
Kalau seperti ini sikap kita, lalu apa bedanya dengan salah seorang Firaun, Mesir? Setiap dia merasa terbebas dari azab (atau dikenal dengan “tulah Mesir”), malah bertambah sombong, seraya berkata “Ini adalah karena (usaha) kami.”
Untuk itu alangkah baiknya, atau biasakan saat terlepas dari masalah, melakukan introspeksi, ambil hikmah atau pelajaran, berlapang dada, dan jangan banyak bicara.
Sebab, hidup tak berhenti di titik itu (ketika bebas dari masalah). Hidup akan terus berjalan. Tantangan pun bisa datang bertubi-tubi tanpa kenal ampun. Bisa saja masalah yang terjadi di depan, akan lebih dahsyat skalanya dari yang berhasil dihadapi sebelumnya.
Mungkin saja Tuhan hendak menjadikan kita besar, sehingga harus terlebih dahulu disengsarakan. Dengan demikian karakter baik kita akan teguh. Namun kalau sikap kita sombong, maka hasilnya akan buruk. Mirip kisah Firaun itu.
Jangan seperti yang dikatakan Filsuf Stoik Seneca, “Kalian bertindak seperti manusia biasa dalam segala hal yang kalian takuti, tapi bagai makhluk abadi dalam segala hal yang kalian inginkan.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Jangan Seperti Firaun
