INSPIRASI PAGI: Kemaruk

DALAM bahasa Jawa ada istilah “kemaruk”. Kata ini disematkan kepada mereka yang suka makan saat baru sembuh dari sakit, sehingga melebihi takaran baik volume maupun frekuensinya.

Lama-lama “kemaruk” diserap dalam bahasa Indonesia, yang artinya orang yang senang sekali/sombong, karena mempunyai barang baru, atau selalu berbuat yang berlebih-lebih karena baru saja menjadi kaya dan sebagainya.

Dalam kehidupan, kita sering melabeli “kemaruk” kepada anak kecil yang punya mainan atau sepeda baru. Siang malam tak mau lepas. Ke mana-mana selalu membanggakan pencapaiannya, sampai-sampai lupa daratan.

Namun tak jarang juga kemaruk menjangkiti orang dewasa saat punya sesuatu yang baru dan sudah lama diimpikan. Misal jabatan.

Jika tak terkontrol, akan membuat diri merasa paling hebat, dan yang lain dianggap bodoh. Ujungnya gemar menyalahkan dan merendahkan orang lain. Bahkan menafsirkan ketentuan Tuhan berdasar hawa nafsunya!

Harta, dan apapun dalam dunia itu memang perlu atau penting dicapai. Namun bukan berarti setelah tercapai harus kemaruk, sehingga jiwa syukur dan qanaah (merasa cukup) pun hilang.

Lebih baik banyak introspeksi dan kontemplasi. Karena sejatinya hidup adalah sebuah perjalanan panjang. Esok hanyalah misteri. Bisa jadi apa yang kita sangka menyenangkan adalah awal dari kesengsaraan, juga sebaliknya. Mending banyak istighfar saja lah…

Bagaimana menurut Anda? (ski)
—–
FOTO cuma ilustrasi

BACA JUGA:  WARTA FOTO: Simbol Sinergi, HMR - Marlin Gowes dan Tanam Pohon Bareng 24 Wali Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *