ORANG yang pandai berkomunikasi itu bukan yang banyak omong, melainkan banyak mendengar.
Tapi, kalau mendengar terus lalu kapan ngomongnya? Tentunya saat ditanya. Itupun jawablah sesuai yang ditanyakan, serta sesuai definisi, konteks, sumber data dan fakta.
Semua keahlian ini, kembali lagi, hanya akan bisa kita dapat dengan banyak mendengar. Sebab, mendengarkan bukan sekedar merupakan perkara fisik “mendengarkan”. Mendengarkan merupakan proses intelektual dan emosional.
Mendengarkan merupakan ketrampilan paling penting yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat kerja. Tidak hanya dalam mengembangkan hubungan, tetapi juga efektif dalam menghindari konflik.
Oleh sebab itu, penting untuk mengembangkan kemampuan mendengarkan untuk menghasilkan komunikasi yang efektif. Dari sana kita belajar menerima, menafsirkan mengingat, mengevaluasi, dan merespon.
Jika memang harus memulai percakapan, bicarakan hal yang penting saja. Seperti membicarakan ide dan gagasan, atau fokus pada topik sesuai situasi dan kondisi.
Jika menyangkut pekerjaan, bicaralah sesuai realisasi rencana. Sejauh mana pelaksanaan dari beragam planning itu. Sejauh mana organizing, actuating, dan controlling-nya. Apakah ada gap dan deviasi? Dan seterusnya.
Dalam kitab Mau’idhatul Mu’minin, Imam Syafi’i memberi nasihat, “Milikilah kepandaian berbicara dengan banyak berdiam, dan milikilah kepandaian dalam mengambil keputusan dengan berpikir.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Kerja Bukan Sekadar Kata
