SEJAK dulu manusia sudah terikat dengan media untuk menyampaikan pesan (menulis dan bercerita), sebagai cara mengekspresikan diri: perasaan, pengalaman, dan pemikiran.
Mc Luhan menyebut “medium is message”. Awalnya manusia memakai dinding gua, beralih ke batu, kayu, dedaunan, pohon (papirus), kertas, akhirnya muncul radio, televisi dan hingga internet.
Kini, ekspresi lebih mudah dilakukan. Dengan bantuan teknologi digital, manusia membuka kanal sendiri: Substack, newsletter, podcast, atau YouTube—mereka membangun kredibilitas personal.
Selamat datang era media sosial, di mana setiap orang adalah kreator konten. Tujuannya sebenarnya baik: dapat membantu seseorang untuk lebih memahami diri sendiri dan orang lain.
Namun, monetisasi mengubah konsep manusia dalam menyerap informasi. Yang viral lebih penting dari yang benar. Yang cepat lebih penting dari yang cermat. Manusia kini bertarung sendirian di tengah badai algoritma.
Saat inilah kita memerlukan para kreator konten yang bukan sekadar pencatat (perekam) peristiwa, tapi penyala cahaya dalam kabut data. Yang jadi bagian dari kebangkitan suara-suara kecil yang jujur.
Dan suara itulah yang akan menyambut dunia baru—dengan nurani, bukan sekadar notifikasi, juga monetisasi, untuk menyalakan cahaya di lorong zaman.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
_____
INSPIRASI PAGI: Konten Sang Kreator
