INSPIRASI PAGI: Kota Kosmopolitan

KOMPAK: Wali Kota Batam H Muhammad Rudi (HMR), dan Wakil Wali Kota Batam H Amsakar Achmad, memotong kue Hari Jadi Batam (HJB) Ke-195, di sela upacara puncak HJB di Dataran Engku Putri, Batamcenter, Rabu (18/12/2024) pagi.

SEMASA hidupnya yang singkat, Aleksander Agung membangun segudang kota yang menyandang namanya. Yang paling terkenal adalah Alexandria, Mesir (Alexandria ad Aegyptum).

Selama dekade berikutnya, seperti kami sarikan dari majalah National Geographic, reputasi dan kekayaan kota yang dirancang Dinocrates ini terus meningkat. Tidak hanya pusat perdagangan, Ptolemaois I Soter menjadikan kota ini sebagai pusat kekuatan intelektual yang tidak tertandingi selama berabad-abad.

Di sini terletak Perpustakaan Agung Alexandria, gudang para intelektual dan pengetahuan terbesar di dunia kuno. Dari Euclid dan Archimedes, hingga Hero, para cendekiawan dan para ilmuwan terkenal lain, menyisir buku-bukunya.

Karena lokasinya yang menguntungkan, Alexandria segera jadi tempat peleburan berbagai budaya dan agama. Dengan gelombang besar imigran, populasi kota pun meledak hingga 300.000 jiwa.

Pada abad ke-2 Sebelum Masehi, Alexandria menjadi kota metropolis kosmopolitan. Namun sifat kosmopolitan dan multikultural ini bak pedang bermata dua. Di satu sisi, itu menjamin kesuksesan kota. Di sisi lain, bentrokan komunitas sering meletus.

Selama konflik berkepanjangan ini, Serapeum (kuil Serapis), dan Perpustakaan Alexandria dihancurkan, bahkam filsuf Hypatia, dibunuh.

Perkembangan Alexandria ini menjadi pelajaran menarik bagi kota-kota modern seperti Batam yang di usianya ke-195 ini (2024), menjadi kota metropolis kosmopolitan.

Yuk selalu jaga kekompakan. Kedepankan rasionalitas, tak usah merawat konflik. “Anda tidak bisa berjabat tangan dengan kepalan tangan,” kata mantan PM India, Indira Gandhi.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version