INSPIRASI PAGI: Kritik, Seni, Kritik

BANYAK cara seseorang menyalurkan aspirasi, kritik bahkan perlawanan terhadap situasi yang dialaminya. Salah satunya melalui karya seni, mulai musik, lukis (termasuk mural), teater dan tari.

Ada yang menyuguhkan kritik yang reflektif dan elegan, dengan pendekatan simbolik, metaforis, serta kemampuan untuk berpikir abstrak.

Hal ini sebagaimana dilakukan Picasso, melalui lukisan “Guernica” (Juni 1937), yang disebut lukisan anti-perang. Ia mengkritik kekerasan dan penghancuran pada Perang Spanyol, tanpa citraan eksplisit.

Ada juga (umumnya dilakukan orang kebanyakan) yang membuat karya seni sebagai media kritik, dengan bentuk langsung, eksplisit, dan bersifat konfrontatif, hingga terkesan provokatif dan banal. Seperti ditemukan pada mural.

Hal ini dilakukan Elyse Leaf (26), seorang ilustrator dan desainer saat protes pro-demokrasi Hong Kong pecah pada 24 Desember 2019 lalu. Elyse Leaf menyalurkan kemarahan dan frustrasinya dengan melukis wajah pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, hancur berantakan.

Hal yang sama juga mewarnai gerakan pembebasan di Amerika Latin, seperti Kuba, Nicaragua, Chile, Mexico dan lain-lain. Demikian juga di Indonesia, hingga saat ini.

Kritik lahir dari proses analisis dan evaluasi. Berasal dari bahasa Yunani “kritikos” yang berarti “dapat didiskusikan”, tujuan kritik untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, demi memperbaiki kualitas suatu (hasil) tindakan.

Bagaimana menurut Anda? (ski)
—-
DILENGKAPI dari alur diskusi di Facebook sastrawan Sitok Srengenge

BACA JUGA:  Tiap Pukul 10 Pagi, ASN Pemko Batam Wajib Nyanyikan Indonesia Raya & Dengar Pancasila

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *