INSPIRASI PAGI: Loyalitas = Kompetensi

SEBELUM perusahaan start up berbasis artificial intelligence merebak seperti saat ini, indikator penilaian loyalitas seorang karyawan selalu terikat ruang, waktu, juga kepada bos. Maksudnya bagaimana?

“Saya sudah 40 tahun kerja di perusahaan ini, mulai dari nol sampai sekarang!” Zaman dulu jika ada karyawan yang mengaku seperti ini sangat dihargai. Namun saat ini belum tentu.

Dulu loyalitas karyawan diukur dari lama tidaknya seseorang mengabdi dalam suatu perusahaan, atau kepada satu bos. Namun kini, menurut motivator sekaligus pebisnis terkemuka asal Singapura, James Gwee, loyalitas dinilai dari kompetensinya, seperti kontribusi, hasil, dan prestasi kinerja.

James mengaku, value system ini ia dapat saat mengunjungi Alibaba Group, yang semua pekerjanya adalah anak-anak muda. “Value system mereka sangat kekinian, sehingga mudah merekrut anak-anak muda yang bermutu,” ungkapnya.

Menurutnya, melineal dan gen-z itu lebih suka bekerja di satu perusahaan di mana mereka lebih fleksibel, tidak terikat ruang. Bisa di kafe, atau bahkan di bawah pohon. Untuk itu perusahaan harus punya sistem yang dirancang untuk menggairahkan anak muda.

“Paradigma, value sistem, hingga cara perusahaan kekinian mengukur karyawan sudah bergeser. You cannot expect the milenial to move backward to follow you system. Your system must move forward to follow the milenials,” jelasnya.

Bagaimana menurut (bos) Anda? (ski)

Exit mobile version