TIDAK perlu memberinya kekuasaan jika hanya ingin tahu watak asli seseorang. Lihatlah saat sedang marah. Di situlah dia akan sangat jujur.
Marah itu emosi normal yang dimiliki oleh setiap manusia. Bedanya, bagi yang beradab akan mampu mengendalikan, sedangkan yang biadab akan melampiaskan, ngegas terus. Sebab hati dan logika sudah tertutup.
Inilah yang menjadi alasan mengapa sebaiknya tidak bertindak dan mengambil keputusan saat sedang marah. Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib.
Alasannya, saat marah seseorang tidak bisa berpikir secara rasional dan lebih mementingkan ego bahkan elemen id-nya.
Jika sudah tidak bisa berpikir dengan jernih, akan cenderung salah, keputusan yang diambil pun tidak berorientasi pada pemecahan masalah atau solusi terbaik. Yang penting melampiaskan sampai puas.
Alasan lain, saat marah akan mudah dipengaruhi orang lain. Sebab, orang marah cenderung mencari perlindungan dan dukungan, bahkan pembenaran.
Masalahnya jika yang marah dikelilingi orang-orang bermasalah, maka saran atau nasihat yang didapat akan menimbulkan efek domino yang merugikan.
Maka itu jika sedang marah, lebih baik diam, agar tak menimbulkan rasa kecewa dan penyesalan. Ini sungguh tidak nyaman. Anda pun cenderung terus berpikir dan berandai-andai bisa mengulang waktu sambil mengutuk diri. Lama-lama bisa membuat terpuruk, stres, bahkan depresi.
Benar kata Don Herold, seorang penulis, humoris dan illustrator dari Amerika Serikat (1889-1966), “Jangan pernah membanting pintu, siapa tahu kita harus kembali.”
Bagaimana menurut Anda?(ski)
