KATANYA, laki-laki sejati jika ada masalah, akan mencari “gua”. Di sana dia akan puasa bicara, menyendiri, berpikir, instrospeksi, bahkan kontemplasi. Karena banyak bicara hanya bikin pikiran kacau, dan menghambat datangnya inspirasi untuk mendapat solusi.
Katanya, perempuan jika ada masalah akan mencari “toa” (sebutan orang untuk pengeras suara). Dia ingin semua orang tahu dan mendengar. Di sana ia akan merasa sensasi kesenangan ketika menerima perhatian atau belas kasihan.
Tapi ini kan “katanya”. Sebab kenyataannya, banyak juga yang sebaliknya: laki-laki kalau ada masalah berisik minta ampun, sebaliknya wanita malah memilih bertafakur, menangis dan memohon ampun kepada Tuhan, lalu bersabar.
Artinya, ini bukan soal gender, tapi tabiat atau mental seseorang dalam menyikapi sebuah masalah: Nangkanya dimakan diam-diam, getahnya dikasih ke orang. Sadis!
Ingat, menceritakan masalah ke orang tak akan menyelesaikan masalah. Apalagi dibumbui fitnah agar diri tampak indah, dan nampak dizalimi demi mencari dukungan publik. Ini sangat tidak beradab. Penipu namanya.
Sebab, sebuah masalah tak bisa dilihat hanya dari satu sisi. Namun harus cover all side! Jadi apapun masalahnya, kita harus mampu bertanggung jawab (ability to respond). Karena ada kalanya masalah tersebut kita sendiri yang ciptakan. Itulah karma.
Bagaimana menurut Anda?
Baca Juga: INSPIRASI PAGI: Inilah Saatnya!
