MASIH ingat tagline iklan ini? “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.”
Pada tahun 1946 Psikolog Solomon Asch, menyimpulkan bahwa kesan pertama kita terhadap seseorang tidak hanya memengaruhi penilaian awal, ia mendistorsi semua informasi yang datang setelahnya. Ini disebut primacy effect.
Kesan pertama itu penting. Karena membentuk kerangka interpretasi. Lalu, otak akan menyaring informasi baru agar sesuai dengan frame awal tersebut.
Ketika kita memiliki kesan positif terhadap satu aspek seseorang—katakanlah dia menarik atau baik hati di awal—otak kita secara otomatis mengasumsikan bahwa sifat-sifat positif lainnya juga ada, meski tanpa bukti.
Maka, ketika kita merasa “tertipu oleh seseorang” atau “dia mulai berubah”, atau “aku baru mengenalnya sekarang,” yang sebenarnya terjadi adalah frame lama runtuh dan otak kita dipaksa membangun frame baru dari nol.
Pertanyaannya adalah: Apakah dia yang menyembunyikan sifat aslinya, atau kita yang membangun versi ideal darinya di kepalamu sendiri, lalu kecewa ketika realitas tidak cocok dengan fantasi?
Sekali lagi, ini bukan tentang dia yang berubah; ini tentang kita yang akhirnya melihat fakta yang selama ini diabaikan. Karena kita membaca kepribadian orang lain melalui hasil penafsiran berbasis manfaat, menggunakan harapan, luka, dan asumsi, lalu menyebutnya sebagai karakter: baik, jahat, pelit, kejam, ramah, zalim dan seterusnya.
“Ia (sifat orang) tidak berubah, kita hanya semakin mengenalnya,” kata Imam Syafi’i.
Maka, jika kita ingin lebih jernih dalam menilai manusia, perlambat cara kita percaya. Amati tindakannya dalam rentang waktu, bukan kesan sesaat. Dengan begitu, kita memberi ruang bagi diri untuk melihat dengan matang, bukan dengan harapan yang terburu-buru.
Bagaimana menurut Anda? (riza)
_____
REFERENSI: Putri Amalia Baswedan
INSPIRASI PAGI: Memahami Manusia
