DARI tak ada, kemudian ada, lalu merawat kesinambungan: tetap, naik, atau malah turun dan mati. Atau sejauh mana kita memberi manfaat, sehingga saat tiada, nama kita tetap dikenang oleh mereka yang hidup sesudah kita. Bahkan hingga beribu tahun kemudian.
“Keunggulan” selalu menjadi asa yang melilit makna dari setiap ulang tahun. Keunggulan dalam arti memiliki potensi. Dengan akalnya, mampu berpikir menjadi yang terbaik dan mulia.
Meski demikian tetap menyadari segala kelemahan, yang jika tak dijaga akan dapat menjatuhkan sang empu dalam kehinaan yang terendah. Bahkan lebih buruk dari hewan sekalipun.
Itulah pentingnya mengasah wawasan, yaitu secara terus menerus mengembangkan pemikiran, sehingga mampu mengenal alam dan tantangan zaman: era digital atau Industry 4.0, di mana aspek kehidupan terkoneksi dalam internet of things.
Menurut Friedrich Nietzsche seorang filsuf asal Jerman, manusia unggul atau übermensch, dilahirkan oleh alam yang mampu hidup dan bertahan karena adanya seleksi manusia (human selection) melalui kecerdasan yang terus menerus di perbaiki (eugenic foresight).
Di antara hal-hal yang menyusun individu yang unggul, kuat, dan baik ialah intelektual, kehormatan, dan kebanggaan diri.
Sedangkan dalam Islam dikenal “manusia ulul albab”, yakni manusia yang mampu mengombinasikan antara ketajaman hati dan kecemerlangan akal, sebagaimana ada pada diri para Nabi dan Rasul,
Keunggulan manusia akan lebih tampak dari aspek sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna , memiliki akal, budi, hawa nafsu dan fisik yang sempurna.
Semoga ulang tahun membuat kita lebih mengenali diri, memahami potensi luar biasa yang ada, dan sejauh mana dapat bermanfaat bagi orang lain.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Memaknai Ulang Tahun






