600 TAHUN yang lalu di Tanah Jawa, Raden Mas Syahid, atau lebih dikenal dengan nama “Sunan Kalijaga”, menulis “Suluk Linglung”.
Sri Rejeki dalam papernya berjudul “Dimensi Psikoterapi Dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga” menulis, sang sunan banyak meninggalkan karya sastra yang mengandung ajaran akidah -akhlak, tasawuf , pendidikan, psikoterapi dan sebagainya dalam beberapa serat maupun suluk.
Karya suluk Sunan Kalijaga yang paling terkenal adalah “Suluk Linglung”. Ini adalah suatu karya sastra yang diabadikan sebagai salah satu ungkapan sejarah tentang Sunan Kalijaga.
Berisi tentang cerita dan kisahnya yang sedang bingung untuk mencari tujuan hidup, sehingga menjadi berandal bernama “Lokajaya” dan kemudian bertemu dengan Sunan Bonang dan akhirnya berguru dengan guru sejati yaitu Nabi Khidir .
Dalam suluknya, Sunan Kalijaga menulis ungkapan yang sangat indah untuk direnungkan. Bunyinya, “Anglaras ilining banyu, angeli ananging ora keli”.
DR Fahruddin Faiz, menjelaskan makna kalimat ini adalah: mengalir tapi tidak tenggelam. “Tak apa-apa kita ikut arus. Tapi jangan tengelam dong!” terangnya.
Tidak tengelam itu maksudnya, kita harus punya prinsip, dan ide yang ingin kita tegak dan semaikan. Ini disebut way of life. Tak sekadar ikut situasi. Dengan memiliki prinsip kita punya arah jalan hidup untuk menjawab tantangan kehidupan yang selalu berubah.
“Hanya ikan mati yang ikut arus. Ikan hidup tak ikut arus. Bahkan salmon bisa melawan arus hingga ke puncak,” jelasnya.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Mengalir dengan Prinsip






