INSPIRASI PAGI: Meritokrasi & Tekanan

SAAT ini kinerja Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, menjadi bintang di Kabinet Merah Putih. Sampai-sampai Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memberikan apresiasi tinggi. Apa rahasianya?

“Kami terapkan meritokrasi. Kalau ada yang bersalah dihukum, bahkan dipecat. Kalau ada korupsi, kita beresin. Jadi, anak-anak (dibuat) bekerja dalam tekanan, tapi bahagia,” ujarnya dalam wawancara di podcast Akbar Faisal.

Menurutnya, dengan selalu menempatkan diri dalam tekanan, selain dapat meraih kesuksesan, juga menjadi pemicu untuk meningkatkan motivasi, fokus, dan produktivitas. Falsafahnya, pelaut ulung lahir di ombak besar. Atau seperti berlian, tercipta setelah melalui ragam tekanan tinggi.

“Kalau orang (bekerja) tanpa tekanan itu, biasanya susah berhasil. Tapi kalau penuh dengan tekanan –ditekan oleh sistem bukan oleh orang– maka dia akan membuat lompatan,” jelasnya, mencontohkan sistem kerja di Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam.

Apa tak menghadapi resistensi? Jawabnya, tidak! Sebab, jangan mimpi target organisasi akan berhasil kalau aturan tidak ditegakkan dengan baik, dan aturan tak akan tegak bila tidak menemukan tekanan.

“Sebab, kami tak bekerja dengan cita-cita ingin mengorbankan orang, dendam atau iri (subjektif). Itu tak baik. Kami cuma jalankan sesuai konsensus, sumpah, dan regulasi. Sesimpel itu,” terang pengusaha dan bangsawan Bugis ini.

Justru yang jahat itu, lanjut Amran, orang yang melakukan pembiaran. Karena sama saja dengan beternak kejahatan dan membebani generasi berikutnya. “Mana yang lebih jahat, yang menindak pelanggar hukum, atau yang melakukan pembiaran?!”

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version