PADA tahun 2019, jagad maya sempat dihebohkan oleh kutipan dan film “Joker” yang diperankan oleh aktor Joaquin Phoenix. Bunyinya, “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti.”
Tentu saja tak semua orang setuju dengan pernyataan tersebut. Banyak warganet yang justru beranggapan bahwa kalimat tersebut tidak relevan dan omong kosong, bahkan jump to conclusion.
Meski tak sama, alasan senada juga pernah disampaikan mantan pakar hukum Yusril Ihza Mahendra. Nampaknya lebih rasional.
Yusril bependapat, dalam sebuah sistem yang baik, orang jahat itu akan dipaksa menjadi orang baik. Tapi sebaliknya dalam sistem yang buruk, orang baik dipaksa menjadi orang jahat.
Namun psikolog sosial Solo Hening Widyastuti menjelaskan, ungkapan itu (orang baik jadi jahat) hanya berpengaruh pada pribadi-pribadi yang lemah secara emosi ataupun pikirannya. Hal ini bisa terjadi pada remaja dan juga orang dewasa.
Pendapat ini cukup fair. Sebab, sejatinya orang baik tetap saja baik, dan yang jahat tetaplah jahat. Jika ada orang baik berubah menjadi jahat atau khianat, sifat itu sebenarnya sudah lama diidap. Niatnya sudah ada, cuma belum ada kesempatan yang pas untuk diluapkan.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
