INSPIRASI PAGI: Paham Membaca

INDONESIA memang sudah bebas dari buta huruf, tetapi bisa membaca bukan berarti mampu memahami apa yang dibaca. Buktinya, kondisi literasi di Indonesia saat ini memprihatinkan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, mengungkapkan sebanyak 75 persen anak usia 15 tahun, memiliki kemampuan membaca tetapi tak memahami apa yang mereka baca.

“Kemampuan membacanya di bawah standar PISA (Programme for International Student Assesment) level 2, yang artinya mereka kesulitan memahami gagasan utama dari sebuah teks panjang,” kata Mu’ti.

Penyakit ini disebabkan, karena minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan — menurut data UNESCO, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Akibatnya, otak tak terlatih memahami gagasan utama dari sebuah teks panjang.

Sebenarnya memahami gagasan utama dalam tulisan itu tak terlalu susah. Syaratnya, baca dengan teliti. Perhatikan tulisan ini berbicara soal apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana?

Kemudian pilah antara fakta dan bukan fakta atau opini. Sehingga, jika kita ingin membuat reaksi, bahkan mendebatnya, tak akan keluar dari jalur atau gagasan utama. Opini bisa dibantah, tapi fakta, tidak.

Namun ingat, jika ingin memberi reaksi bahkan membantah sebuah tulisan, harus pakai nalar: jelas basis faktanya. Jangan pakai perasaan, ilusi, apalagi khayalan. Sehingga ada gagasan tentang A, yang ditanggapi soal B, lalu melebar soal C. Akhirnya nyinyir sampai ke Antartika.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  BATAMCENTER, KataBatam-BP Batam Beri Bantuan Bahan Pokok untuk Ringankan Beban Masyarakat Rempang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *