News  

INSPIRASI PAGI: Para Perempuan Perkasa

EMANSIPASI: Wakil Gubernur Kepulauan Riau Hj Marlin Agustina, bersama Wali Kota Batam H Muhammad Rudi (HMR) saat membuka Jambore PKK Kota Batam, Sabtu (20/4/2024) pagi. Di masa kini kian banyak perempuan di Kepri yang berkiprah dalam pembangunan. Di antaranya Hj Marlin Agustina.

RATUSAN tahun sebelum RA Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, pada tanggal 21 April 1879, di Kepulauan Riau (dulu ditulis Riau) banyak memiliki tokoh perempuan dengan idealisme tinggi dan berani melawan arus kehidupan.

Para perempuan cerdas ini juga berjuang untuk kemajuan pendidikan, kesetaraan hak, bahkan membela marwah bangsa, sehingga mereka sangat dicintai oleh rakyatnya. Sebab memiliki kualitas budi dan kepemimpinan yang unggul.

Yang paling masyhur adalah Engku Puteri Raja Hamidah binti Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV Riau-Lingga-Johor-Pahang. Ia memang tak menjadi sultan, akan tetapi, tanggung jawab kepemimpinan yang diembannya tak kalah dari suaminya, Sultan Mahmud Riayat Syah, Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812).

Pasal apa? Engku Puteri mendapat kepercayaan menjaga regalia (alat kebesaran kerajaan). Tanpa regalia, maka tak ada Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang. Sebab sultan dan raja Riau-Lingga-Johor-Pahang baru dinyatakan sah jika proses penabalan (pelantikan)-nya disertai regalia.

“Itulah sebabnya, oleh orang Melayu, regalia sering juga disebut kerajaan itu sendiri,” tulis Profesor Abdul Malik, Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Alhasil, permaisuri perkasa ini tampil sebagai pemimpin yang namanya harum sampai setakat ini dan menjadi tokoh legendaris yang tak pernah dilupakan, sejajar dengan suaminya, Sultan Mahmud Riayat Syah—pemimpin besar yang visioner itu—dan ayahndanya Raja Haji Fisabilillah, yang perkasa lagi terbilang.

Satu lagi, Raja Aisyah binti Raja Sulaiman ibni Raja Ali Haji atau lebih dikenal dengan nama Aisyah Sulaiman. Perempuan kelahiran 1870 di Pulau Penyengat ini, memang tak pernah memimpin kerajaan. Namun menjadi orang terdepan dalam bidang pengembangan intelektual pada zamannya.

Karya-karyanya yang monumental telah mengangkat harkat dan martabat kaum dan bangsanya melesat jauh daripada yang mampu dipikirkan orang pada zamannya.

Engku Puteri, dan Aisyah Sulaiman, adalah bukti tentang dedikasi, pengorbanan, dan ketauladan kaum perempuan yang membuat kaumnya bangga terlahir sebagai perempuan.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Buka Musda Pujakesuma, Jefridin Ajak Jaga Batam dan Keberlanjutan Pembangunan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *