INSPIRASI PAGI: Pelan-pelan Pak Sopir

pelan-pelan pak sopir

SETIAP orang besar, baik atlet, artis, maupun pemimpin di instansi swasta dan negara, selalu memiliki penasihat. Namanya beragam, ada yang disebut konsultan, pelatih, dan sebagainya.

Muncul pendapat sinis, “Katanya orang besar kok masih butuh penasihat?” Atau, “Buat apa penasihat? Kalau memang hebat, kenapa mereka tak bisa jadi orang besar?”

Pendapat semacam ini lumrah terjadi. Mungkin yang bersangkutan belum pernah punya pengalaman jadi sopir. Kok sopir?

Analoginya begini. Menjalankan peran sebagai orang besar itu, ibarat menjalankan kendaraan. Semakin besar badan kendaraan, seperti bus atau truk, akan semakin banyak blind spot (titik buta), di mana pengendara atau pengemudi tidak dapat melihat suatu area pandang tertentu.

Ini bahaya, karena dapat menyebabkan kecelakaan tanpa disadari, seperti tabrakan hingga melindas pengendara lain. Korban jiwa pun bisa tak terelakkan.

Itulah mengapa dibutuhkan seorang kenek atau kernet. Tugasnya untuk membantu melihat blind spot tadi. Karena spion saja tak cukup.

So… Jika mengemudi bus dan truk saja butuh kenek, apalagi “pengemudi” peran yang besar? Tentu akan banyak sekali blind spotnya. Dengan catatan, keneknya harus jeli, yang ditopang oleh pengalaman dan menguasai medan.

Jangan pakai kenek yang pemalas, suka molor apalagi pemabuk. Kalau memang susah cari yang mantap, minimal yang bisa lantang teriak, “Pelan-pelan pak sopir…” saat dirasa ada potensi bahaya mengancam.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version