SETIAP pemimpin yang baik adalah pengikut yang baik. “Dia yang tidak bisa menjadi pengikut yang baik tidak bisa menjadi pemimpin yang baik,” kata Aristoteles.
Sang filsuf yang pemikirannya masuk ke Eropa (barat) setelah diterjemahkan oleh Ibnu Rusyd ini percaya, bahwa untuk menjadi pemimpin yang efektif, harus menjadi pengikut agar memahami kebutuhan dan keinginan kelompok secara mendalam.
Bahkan setelah menjadi seorang pemimpin pun, masih perlu mengikuti – keprihatinan, penderitaan, dan kemajuan orang-orang yang ia layani.
Maka jelas, jika ingin menilai sebuah karakter kepemimpinan, atau layak tidaknya seseorang memimpin, lihatlah rekam jejaknya semasa ia menjadi bawahan.
Sebab setiap organisasi pasti punya kode etik dan kode perilaku yang harus dipatuhi, sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan anggota dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi, serta pergaulan hidup sehari-hari yang bertujuan untuk menjaga martabat dan kehormatan pegawai, dan institusi.
Dari sini bisa ditengok apakah pegawai tersebut becus bekerja atau tidak, malas atau rajin, pandai berbual daripada berbuat, loyal atau khianat, bahkan apakah di luar sering jelek-jelekan pimpinan dan organisasi, atau sebaliknya?
Ingat, setiap karyawan atau pegawai adalah pemimpin (dalam arti luas). Maka ia harus mampu menggerakkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya untuk selalu melaksanakan landasan norma tersebut.
Falsafah kepemimpinan “Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani, rasanya masih relevan diterapkan saat ini: Di depan menjadi panutan atau contoh, di tengah menjadi penyemangat atau penyeimbang, dan di belakang memberi dorongan.
Bagaimana menurut Anda?(ski)
