DI JEPANG ada sebuah teknik untuk merekatkan lagi mangkuk teh keramik yang pecah jadi lebih indah, menggunakan urushi (pernis Jepang) dan emas. Namanya “kintsugi” (kin = emas, tsugi = penyambungan).
Dalam kehidupan kita bisa menjadikan kintsugi, sebagai metafora untuk menerima keindahan dalam ketidaksempurnaan. Misalnya dalam hubungan. Kalau bisa diperbaiki, kenapa harus dibuang atau diganti?
Jika kita menyadari bahwa kita semua tidak sempurna, perbaikan metaforis dapat mencakup tindakan memaafkan, kasih sayang, validasi, penerimaan, atau sekadar pelukan hangat.
Filsuf Amerika Elizabeth Spelman, berkata, “Permintaan maaf adalah undangan untuk berbagi dalam ritual perbaikan, dalam tarian yang melibatkan lebih dari satu penari.”
Namun, minta maafnya harus dilakukan dengan benar, ya! Ketahui duduk persoalan, di mana sumber persoalan dan kesalahannya. Kemudian pastikan tidak terulang kembali. Sehingga masalah tak terus berulang.
Dari kintsugi kita belajar, bahwa apa yang pecah, meski bisa direkatkan, tetap akan meninggalkan bekas. Namun jika disambung dengan benar, akan menjadi entitas baru, yang meskipun tidak sempurna, tapi lebih cantik dan lebih kuat dari sebelumnya.
Ingat, tulis Ernest Hemingway, “Dunia menghancurkan semua orang dan setelah itu banyak orang menjadi kuat di tempat-tempat yang hancur.”
Bagaimana menurut Anda? (ski)
____
Referensi:
> The Guardian
> Kintsugi: The Poetic Mend oleh Bonnie Kemske, diterbitkan oleh Bloomsbury
INSPIRASI PAGI: Permohonan Maaf






