Disarikan dari ungkapan Goenawan Mohammad, dalam acara “Menulis Opini Bersama Goenawan Mohamad”, di Universitas Paramadina, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa, 30 Maret 2010.
BERLIN sedang musim dingin. Orang-orang jarang ada yang keluar. Mereka lebih memilih berdiam di hotel atau di rumah yang nyaman. Goenawan Mohamad (GM) menghadapi dilema.
Hotel tempatnya menginap di Jerman itu tidak dilengkapi fasilitas internet. Padahal “Catatan Pinggir” atau “Caping” harus segera disetor untuk diterbitkan.
“Jika nekat ingin mengirim Caping (Catatan Pinggir) lewat email, saya harus menempuh jarak 3 km dan melawan dingin. Akhirnya saya tulis Caping dengan SMS. Capek sekali saya,” akunya.
Tak terbayang bagaimana menulis esai ribuan karakter itu lewat SMS yang hanya bisa memuat 160 karakter saja. Itupun sudah termasuk tanda baca dan spasi.
Beda dengan saat ini, yang semakin canggih sehingga bisa mengirim lewat aplikasi pesan dengan karakter yang hampir tak terbatas.
Namun begitulah effort sang maestro dalam menciptakan sebuah masterpiece. Selain konsisten, juga persisten.
Maka wajar jika Caping menjadi salah satu esai paling populer di negeri ini. Tulisan yang gaya penulisannya dikenali seperti puisi itu memiliki penggemar dari berbagai kalangan.
Bahkan kini Caping telah dibukukan hingga 15 jilid. GM telah menulisnya sejak 1977 dan diterbitkan dalam bentuk buku berseri sejak 1982.
(Mantan) Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Toriq Hadad memberi kesaksian bahwa Caping merupakan bagian hidup GM.
“Dia itu selalu gelisah. Bahkan setelah nulis sekalipun dia tetap gelisah. Pernah Caping yang sudah diserahkan direvisi hingga 9 kali. Ke mana pun dia pergi, dia pasti akan tetap menulis,” cerita Toriq. Benar-benar persisten!
Dari sini kita belajar bahwa hal terpenting untuk sukses dan bahagia bukanah bakat, tapi kekuatan passion dan kegigihan.
Bagaimana menurut Anda? (ski)






