INSPIRASI PAGI: Quo Vadis & Perubahan

DALAM tradisi Kristen, frasa “quo vadis” menjadi simbol penting yang sering digunakan untuk mengingatkan umat Kristiani akan sebuah contoh nyata perubahan jalan hidup dan penerimaan takdir.

Asal-usul kalimat ini berkaitan erat dengan kisah Santo Petrus saat melarikan diri dan bertemu Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian, di jalan Appian, di luar Kota Roma. Saat itu dia bertanya, ““Quo vadis, Domine?” “Hendak ke mana Kau, Tuhan?”

Usai pertemuan ini, Santo Petrus menyadari panggilannya dan kembali ke Roma, di mana ia akhirnya disalibkan.

Selanjutnya kalimat quo vadis juga dipakai dalam berbagai konteks lain, seperti karya sastra. Yang terkenal adalah novel berjudul “Quo Vadis: A Narrative of the Time of Nero” karya Henryk Sienkiewicz, yang pertama kali terbit 1896.

Novel yang menggambarkan kekejaman Kaisar Nero di Romawi, serta latar belakang pertemuan Santo Petrus dengan Yesus ini, kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang dirilis pada tahun 1951 dan memenangkan Golden Globe Award.

Di Indonesia, ungkapan quo vadis juga banyak digunakan di luar konteks agama Kristen, salah satu contohnya, pidato mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, berjudul, “Quo Vadis Indonesia?” Banyak juga penulis Indonesia yang menggunakan frasa “quo vadis” di judul artikel hingga buku.

Quo vadis? Kalimat ini secara tak langsung membuat kita mengakui kelemahan dan kekurangan. Bukan berarti menyerah, tapi mengajak introspeksi, menguatkan kembali tujuan hidup kita di Bumi ini.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

BACA JUGA:  Sukses Bikin Ekonomi Batam Meroket 7,04%, Lecut Semangat HMR Bangun Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *