INSPIRASI PAGI: Ramah Merangkul

SEPANJANG sejarah umat manusia, konflik selalu ada. Bermula dari beda pemahaman antara dua orang atau lebih, lalu menimbulkan ketegangan, dan perselisihan.  Kata X salah Y, kata Y salah X. Polarisasi pun wujud!

Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), filsuf Jerman yang memainkan peran sentral dalam tradisi filsafat kontinental, menjelaskan teori konflik yang ia sebut konsep “dialektika”.

Menurutnya, perkembangan ide atau konsep terjadi melalui konflik antara tesis (pengakuan), antitesis (penolakan), yang kemudian menghasilkan sintesis (penyatuan kontradiksi).

Dari konsep yang menginspirasi banyak pemikir, termasuk Karl Marx dan Friedrich Engels ini, jelas adanya bahwa konflik tak akan bisa dielakkan. Meski demikian, bisa dikendalikan bahkan disatukan. “United we stand, divided we fall”. Bersama kita bisa!

Apalagi sekarang zaman kolaborasi, yang menurut Profesor Rheinald Kasali, dunia sedang dilanda fenomena frenemy: kita bisa bekerja sama dengan (orang yang dulu menjadi) lawan-lawan kita.

Maka jangan heran, setelah terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump langsung mengundang Mark Zuckerberg makan malam di resornya, di Mar-a-Lago. Padahal semua tahu, bos Facebook itu sangat bermusuhan dengan Trump.

Tidak mau memelihara konflik juga menjadi prinsip Presiden Prabowo Subianto. Usai dilantik, ia pun merangkul ramah bahkan bekerja sama dengan lawan-lawan politiknya.

Pada pidato perdananya Prabowo berkata, “Di tengah cita-cita yang begitu besar, yang begitu kita idam-idamkan, kita perlu suasana kebersamaan, kita perlu suasana persatuan, kita perlu kolaborasi, kerja sama, bukan cekcok berkepanjangan,” tegasnya.

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version