DI MASA jayanya, tahun 1989, petinju Mike Tyson, dipertemukan dengan Sang Legenda Tinju Dunia Muhammad Ali, di sebuah acara talk show televisi Amerika Serikat.
“Siapa yang akan menang jika Anda (Ali) melawan orang ini (Tyson) di masa jayamu?” tanya pembawa acara.
Spontan, Ali yang saat itu sudah menderita penyakit syaraf, parkinson, langsung menunjuk kepada Tyson. Yang ditunjuk langsung mengibaskan kedua telapak tangannya, bahwa itu tak benar.
“Saya itu sangat cepat tapi ketika dia (Tyson) memukulku…” Ali menghentikan bicaranya, lalu menyandarkan badannya ke kursi, seperti orang pingsan. Sebuah isyarat bahwa dialah yang kalah.
Lalu, apa jawaban “Iron Mike”? Ternyata bikin merinding. “Saya tahu saya itu hebat. Namun, bisakah aku memberitahu kalian sesuatu? Di saat ini, setiap kepala harus menunduk, setiap lidah harus mengakui, kalau dia itu (Muhammad Ali) greatest of all time (terhebat sepanjang masa).”
Sekadar diketahui, Tyson adalah juara kelas berat termuda sepanjang masa, pada usia 20 tahun. Namun “Si Leher Beton” ini sangat mengagumi Ali, dan selalu menunjukkan rasa hormat terhadap petinju yang “melayang seperti kupu-kupu, menyengat bagai lebah” itu.
But above all this, kisah ini menunjukkan kepada kita bahwa ternyata kerendahan hati bisa membuat seseorang terlihat jauh istimewa di mata orang lain.
Bagaimana menurut Anda? (ski)
