DALAM video yang viral di media sosial itu, Deddy Corbuzier tampak marah setelah menyaksikan seorang anak mengomentari rasa ayam dari menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap kurang enak. “Nah ente komplain, sekaya apa ente? Gila,” ujarnya.
Repot juga hidup dalam alam pikiran Deddy Corbuzier ini. Mau komplain saja harus nunggu kaya dulu. Gila! (he-he-he)
Terlepas dari apa agendanya, atau isu apa yang mau dialihkan, anak-anak tak boleh dipatahkan daya kritisnya. Karena itu adalah kunci pencerahan akal budi.
Harusnya, di negara demokrasi ini, setiap insan harus didorong berpikir mandiri sejak dini. Karena kata filsuf Prancis, Michael Foucault, setiap orang punya kuasa masing-masing, dan yang paling fundamen adalah kuasa atas dirinya sendiri
Immanuel Kant, juga mengatakan, “Sapere Aude!” Beranilah untuk mengetahui. Milikilah keberanian untuk menggunakan pikiran sendiri. Bahkan pesimisme adalah benih dari kritisisme itu sendiri.
Kelakuan Deddy kali ini wajib diwaspadai, karena berpotensi menyeragamkan, serta merepresi daya kritis masyarakat. Dengan influence-nya di media sosial, dia dapat menciptakan kondisi seperti yang dilukiskan Irvin L Janis dalam teori “Group Think”: irrasional, tapi diamini orang banyak seolah menjadi representasi atau hasil konsensus.
Katanya “smart people”, tapi tak open minded. Giliran yang tak sama distigma macam-macam. Apa gak “pe-a” tuh?
Bagaimana menurut Anda? (ski)
INSPIRASI PAGI: Sapere Aude, Deddy!
