INSPIRASI PAGI: Say No to Brilliant Jerk!

DI DUNIA kerja ada istilah “brilliant jerk”, yakni individu (bos/atasan/pimpinan) yang sangat pintar, berprestasi, produktif dan kreatif, tetapi memiliki sikap buruk yang merusak hubungan interpersonal dan harmoni tim, terutama bawahan.

Dulu orang yang oleh Robert Sutton, profesor manajemen di Stanford University, disebut “the assholes in the workplace” ini, sering diberi toleransi oleh perusahaan. Yang penting perusahaan jadi hebat dan besar.

Namun kini, banyak perusahaan yang sadar bahwa orang-orang yang dalam buku Rheinald Kasali “Self Driving” disebut “bad driver” tersebut, sangat toksik dan merusak budaya kerja.

Sifatnya yang egois, menekan, narsis, kasar, dan nirempati, membuat turn-over karyawan tinggi dan produktivitas tim rendah, karena lingkungan kerja tak nyaman.

Netflix menjadi salah satu perusahaan yang mengambil langkah tegas terhadap dilema ini. Mereka memecat karyawan yang dianggap brilliant jerk.

CEO dan Co-Founder Netflix, Reed Hastings menjelaskan, “Efek toksik mereka terlalu besar untuk diabaikan, bahkan jika kontribusi mereka secara individu sangat signifikan,” ujar pria yang pertama kali mengenalkan istilah ini.

Skill masih bisa dipelajari, tapi kalau sifat buruk udah mendarah daging, susah banget diubah. “Hire for attitude, train for skills,” saran Rheinald Kasali. Say no to brilliant jerk!

Bagaimana menurut Anda? (ski)

Exit mobile version