INSPIRASI PAGI: Si Oportunis, Pragmatis

Patung Nasrudin Hoja memakai topi tarbus dan menunggang keledai dengan cara terbalik di Anatolia, Turki.

SUATU HARI, Nasruddin Hoja meminjam periuk kepada tetangganya. Lalu, seminggu kemudian, dia mengembalikannya dengan bonus periuk kecil.

“Mengapa periukku jadi dua?” si tetangga heran.

“Selamat, periukmu punya anak!” jawab Nasruddin. Tentu saja tetangganya happy.

Beberapa hari kemudian, Nasruddin meminjam kembali periuk itu. Namun tak pernah dikembalikan.

“Periukmu meninggal dunia dan sudah kumakamkan di belakang rumah,” jelas Nasruddin.

Kali ini sang tetangga murka, “Mana ada periuk bisa meninggal dunia? Kembalikan!”

“Bukankah kemarin engkau percaya periuk bisa beranak? Periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia bukan?!” jawab Nasrudin.

DR Fahruddin Faiz, dosen Aqidah dan Filsafat Islam pernah menjelaskan, bahwa hidup ini kadang diatur oleh rasa suka dan tidak suka. Bukan oleh kebenaran yang diyakini.

Saat untung malah diam. Meski tahu bahwa itu salah dan hasil kecurangan. Tapi saat rugi, teriak bukan main. Meski itu benar.

“Akalnya baru datang belakangan hanya untuk membenarkan kepentingannya,” jelasnya. Inilah contoh oportunis sejati. Biasanya orang semacam ini cenderung pragmatis.

Bagaimana menurut Anda?(ski)

Exit mobile version